Tidak hanya indah, ekosistem terumbu karang mempunyai banyak manfaat yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kita, lho. Sebetulnya apa manfaat terumbu karang? Adakah manfaat terumbu karang bagi manusia? Atau jangan-jangan manfaat terumbu karang bagi ekosistem laut saja?
Kami membagi manfaat terumbu karang dalam 3 bidang dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu:
- Ekologi dan Ekonomi Pesisir
- Sumber Pangan Laut
- Potensi Obat-obatan
Simak penjelasan selengkapnya dari masing-masing kategori tersebut.
Ekologi dan Ekonomi PesisirBagi Produksi Perikanan Indonesia
Terumbu karang merupakan habitat dan sumber makan berbagai jenis biota laut, termasuk ikan, udang, lobster, dan biota laut lainnya dengan nilai ekonomi. Terumbu karang berperan sebagai tempat bertelur, tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan, dan tempat berkembang biak bagi biota laut. Sehingga apabila terumbu karang rusak dapat menyebabkan terganggunya manfaat terumbu karang dan rantai makanan yang berdampak langsung pada produksi perikanan. Produksi perikanan tangkap dan budidaya merupakan bagian dari jasa ekosistem penyediaan yang tidak terlepas dari manfaat terumbu karang secara ekologis.
Berdasarkan Statistik Perikanan dan Akuakultur Tahun 2018 dari Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia menduduki peringkat kedua dalam produksi perikanan tangkap setelah Tiongkok dan ketiga dalam produksi perikanan budidaya setelah Tiongkok dan India.

Bagi Perekonomian Masyarakat Pesisir
Sebagai negara kepulauan, sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari lautan. Dari 8,3 juta km2 luas wilayah NKRI, 6,4 juta km2 merupakan wilayah perairan dengan 16.671 pulau besar kecil (BPS, 2020). Dengan luasnya wilayah laut tersebut, Indonesia menjadi negara yang memiliki sumber daya laut yang sangat besar yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai sumber mata pencahariannya. Pada Maret 2020, tercatat sejumlah 1,45 juta nelayan di Indonesia yang hidupnya bergantung pada ekosistem laut (KKP, 2020). Rusaknya terumbu karang menyebabkan terganggunya produktivitas perikanan yang berakibat hilangnya mata pencaharian nelayan kecil. Sebaliknya, kondisi terumbu karang yang sehat menunjang perekonomian masyarakat pesisir, misalnya nelayan pencari ikan hias yang bergantung pada keberadaan terumbu karang sebagai habitat ikan hias.
Selain perikanan, manfaat terumbu karang juga dirasakan sektor pariwisata bahari. Berbagai aktivitas pariwisata bahari seperti memancing, menyelam, dan snorkeling mendatangkan turis domestik maupun mancanegara dan meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Sektor pariwisata bahari sangat bergantung pada manfaat terumbu karang secara ekologi. Pemandangan indah di bawah laut seperti warna-warni terumbu karang dan kawanan ikan hanya dapat dinikmati apabila ekosistem terumbu karang dalam kondisi sehat. Oleh karena itu, konsep ekonomi biru penting diterapkan untuk keberlanjutan terumbu karang dan perekonomian masyarakat pesisir.
Saat ini pemerintah Indoesia sedang mengembangkan Blue economy sebagai langkah untuk mengembangkan perekonomian Indonesia yang bersumber dari perairan baik darat maupun laut. Salah satu konsep blue economy adalah keberlanjutan dimana pemanfaatan sumber daya laut harus mempertimbangkan keberlangsungan hidup biota laut sebagai sumber pangan dan mata pencaharian bagi penduduk pesisir guna mengurangi kemiskinan dan kelaparan (Rakhmindyarto dan Sinulingga, 2014).

Bagi Pertahanan Pesisir
Struktur terumbu karang yang kompleks mendukung fungsi terumbu karang sebagai pemecah ombak. Menurut penelitian Ferrario et al. (2014), terumbu karang menyediakan perlindungan substansial dari bencana alam dengan mengurangi energi gelombang rata-rata 97%. Kerusakan terumbu karang berarti hilangnya pelindung alam wilayah pesisir yang akan memicu peningkatan laju abrasi pantai (BPS, 2020).
Masih banyak manfaat terumbu karang lainnya secara langsung maupun tidak langsung di kehidupan sehari-hari. Secara sadar maupun tidak, keberadaan terumbu karang memberikan manfaat bagi hidup kita. Oleh karena itu, mari kita jaga dan restorasi terumbu karang Indonesia demi keberlanjutan hidup kita semua. Salah satu cara kamu bisa berpartisipasi adalah dengan mengadopsi baby coral! #1CoralAtATime

Sumber pangan laut
Lebih dari 1 milyar orang hidup dalam radius 60 km dari terumbu karang di daerah tropis dan separuhnya bergantung pada terumbu karang sebagai sumber pangan dan pendapatan. Faktanya, sebanyak 400 juta orang termiskin di dunia bertumpu pada ekosistem terumbu karang sebagai sumber utama protein mereka (Reid et al., 2009). Percaya atau tidak, terumbu karang berkontribusi pada pangan laut yang kita makan, mulai dari ikan goreng hingga lobster bakar! Apa manfaat terumbu karang bagi produksi pangan laut? Mari kita telusuri lebih lanjut.
Seberapa banyak masyarakat Indonesia yang makan ikan? Di Indonesia, ikan merupakan sumber utama protein nasional. Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 menemukan rata-rata 1 orang Indonesia mengkonsumsi 41,1 kg ikan/tahun! Sepanjang 2011-2015, angka ini terus meningkat, menunjukkan betapa bergantungnya masyarakat Indonesia pada ikan sebagai sumber pangan dan sumber protein. Maka dari itu, produksi pangan laut harus dijaga agar dapat memenuhi kebutuhan banyak orang, salah satunya dengan menjaga kesehatan terumbu karang.
Secara ekologis, manfaat terumbu karang yaitu menyediakan tempat bertelur, tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan, dan tempat berkembang biak bagi biota laut. Biota laut bergantung pada terumbu karang pada berbagai tahap hidup mereka, misalnya sebagai tempat bertelur lobster, tempat mencari makan ikan tuna, tempat berlindung gurita, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, ketiadaan dan kerusakan terumbu karang akan berpengaruh pada berbagai tahap hidup biota laut yang berdampak langsung pada jumlah populasinya.
Penelitian pada 1996-2003 di Papua menemukan bahwa berkurangnya tutupan karang menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati ikan secara paralel, baik di suaka margasatwa maupun di daerah yang terbuka untuk penangkapan ikan. Lebih dari 75% spesies ikan karang menurun dalam kelimpahannya, dan 50% spesies menurun populasinya menjadi kurang dari setengah jumlah aslinya. Beberapa spesies spesialis karang langka bahkan punah secara lokal. Di mana ada degradasi terumbu permanen, di situ keanekaragaman hayati ikan terancam (Jones et al., 2004)
Bagaimana dengan kondisi kesehatan terumbu karang di Indonesia? Penelitian LIPI pada tahun 2018 menyatakan 31,18% terumbu karang di Indonesia berstatus jelek/bad condition, sedangkan terumbu karang dengan status kesehatan baik dan sangat baik tersisa 29,52% saja. Krisis iklim menyebabkan peningkatan suhu air laut dan pemutihan koral secara massal. Peningkatan suhu laut sebanyak 1°C di atas rata-rata dapat menyebabkan pemutihan koral dan mengancam ekosistem terumbu karang.

Untungnya, ada solusi untuk mengembalikan kondisi kesehatan terumbu karang. Teknologi Biorock adalah satu-satunya metode yang melindungi karang dari kematian setelah pemutihan total dari sengatan panas yang ekstrim. Karang yang tumbuh pada struktur Biorock terbukti bertahan hidup setelah dua kali mengalami pemutihan pada tahun 2016 dan 2020. Untuk membaca tentang fenomena ini, klik tautan berikut BIOROCK SAVES BLEACHING CORALS AGAIN. Kondisi terumbu karang yang rusak dan populasi terumbu karang yang semakin sedikit akan berpengaruh langsung pada kehidupan kita. Jika kita masih ingin makan seafood di pinggir pantai atau memesan fish and chips di restoran favorit kita, mari dukung upaya restorasi terumbu karang karena karang sehat berarti komunitas kuat.

Potensi Obat-obatan
Tahukah kamu? Lebih dari setengah penelitian obat kanker terbaru berfokus pada biota laut, salah satunya terumbu karang. Terumbu karang ditemukan berpotensi menjadi obat-obatan di masa depan. Berbagai obat-obatan terbaru untuk penyakit kanker, radang sendi, infeksi bakteri, Alzheimer, penyakit jantung, dan virus sedang dikembangkan dari terumbu karang.
Terumbu karang merupakan organisme stasioner, artinya tidak dapat berpindah atas kehendak sendiri. Hal ini berarti terumbu karang tidak dapat melarikan diri dari predator. Oleh karena itu, terumbu karang berevolusi mengembangkan pertahanan diri berupa pertahanan kimia. Terdapat spesies terumbu karang yang melindungi diri dengan metabolit sekunder untuk mengusir predator. Terdapat juga spesies yang mengekskresi racun. Beragamnya spesies dan jenis pertahanan kimia terumbu karang dipelajari karena berpotensi diaplikasikan untuk pengobatan penyakit manusia.
Menurut Bruckner (2002) biota laut seperti terumbu karang memiliki potensi medis 300-400 kali lebih tinggi daripada makhluk hidup di darat dikarenakan 80% bentuk kehidupan terdapat di lautan. Terlebih, biota laut memiliki keanekaragaman genetik yang lebih tinggi dari organisme di darat yang mendukung potensi tersebut. Potensi medis terumbu karang tidak sebatas spesies karang, tetapi juga biota laut yang tinggal di kawasan terumbu karang seperti tunicata, moluska, bryozoa, spons, echinodermata, dan lainnya.
Beberapa obat-obatan modern paling awal yang diperoleh dari ekosistem terumbu karang termasuk obat antivirus Ara-A (untuk herpes), antivirus AZT (untuk HIV), dan agen anti kanker Ara-C yang dikembangkan dari ekstrak spons Tethya crypta. Spons ini dapat ditemukan di kawasan terumbu karang Laut Karibia, khususnya pada substrat berpasir dan beralga. Hingga saat ini, AZT masih digunakan dalam pengobatan AIDS atas persetujuan FDA.

Dalam pengobatan kanker, terdapat beberapa obat komersial yang diisolasi dari ekosistem terumbu karang. Salah satunya adalah Yondelis, obat kanker yang mengandung senyawa Ecteinascidin 743 atau Trabectedin. Senyawa ini diisolasi dari Ecteinascidia turbinata, spesies tunicata yang dapat ditemukan sepanjang tahun di perairan dangkal di Laut Karibia, pantai timur Florida, Bermuda dan Teluk Meksiko. Yondelis digunakan sebagai obat kemoterapi anti tumor untuk sarkoma jaringan lunak lanjut dan kanker ovarium.

Pada akhir 2019, tercatat ada 9 obat disetujui yang bersumber dari laut yaitu Vira-A®, Prialt®, Lovaza®, Cytosar-U®, Halaven®, Adcetris®, Yondelis®, Aplidine®, dan POLIVY®. Selain itu, saat ini terdapat 31 komponen dari lautan yang masih dalam uji klinis, 5 komponen di fase III, 13 komponen di fase II dan 9 komponen di fase I untuk menjadi obat resmi. Salah satunya adalah senyawa Dolastatin 10 yang diisolasi dari kelinci laut di Samudra Hindia yang sedang dalam uji klinis untuk pengobatan kanker payudara dan hati, tumor, dan leukemia.
Sayangnya, pengembangan terumbu karang sebagai obat-obatan terhalang keterbatasan jumlah terumbu karang sehat di lautan. Menurut satu laporan, dibutuhkan 1.600 kg kelinci laut untuk mengisolasi 10 mg senyawa obat. Kelompok lain menghasilkan 1 mg senyawa antikanker dari 2.400 kg spons Indo-Pasifik. Jumlah ekstrak yang sedikit sulit melewati tahap uji klinis dan persetujuan karena diperlukan sampel obat yang banyak hingga 1 kg. Kondisi terumbu karang yang rusak dan populasi terumbu karang yang semakin sedikit karena krisis iklim membuat pengembangan obat-obatan terhambat. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama berbagai pihak untuk restorasi terumbu karang, termasuk kamu!
Biorock Indonesia mendukung restorasi terumbu karang melalui berbagai program konservasi berkelanjutan yang melibatkan komunitas.