Project Biorock Ambon: Keberhasilan dan Tantangan

Written by Biorock Indonesia

April 25th, 2017

Tyas Ismi Trialfhianty, Master Student of Science in Ecological Management and Conservation Biology, Queen’s University Belfast.

Hari itu Sabtu, 19 Desember 2015 beberapa masyarakat yang terdiri dari nelayan, pekerja swasta, wiraswasta, aparat sipil bahkan ibu rumah tangga, berkumpul di Kantor Desa Negeri Halong Kecamatan Teluk Ambon. Pertemuan tersebut khusus diadakan untuk membahas keberlanjutan alam bawah laut Teluk Ambon yang menjadi sumber penghasilan masyarakat di sekitar teluk. Teluk Ambon kini amat kotor bila dibandingkan dengan Teluk Ambon 50 tahun silam. Gencarnya pembangunan infrastruktur di daratan membuat sedimentasi meningkat dan secara langsung membunuh kehidupan bawah laut Teluk Ambon yang dulu terkenal dengan tingginya keanekaragaman flora dan fauna laut. Kini, penyesalan dari berbagai pihak diungkapkan namun tidak ada yang dapat merubah hari lalu.

Semangat membangun kembali jantung mata pencaharian masyarakat pesisir Ambon mulai digalakan tepat setahun yang lalu. Dengan dukungan penuh dari PT. PERTAMINA (persero), Tim berhasil membangun kembali semangat untuk merestorasi keindahan bawah laut teluk yang tergerus intensifitas pembangunan. Pada momen inilah tergambar relasi positif antara masyarakat dan kompleksitas ekosistem, yang ternyata penurunan kualitasnya tidak hanya dapat dibantu dari sudut pandang ilmu sains, tapi juga setiap elemen masyarakat yang turut mengambil peran di dalamnya.

Lewat kurang lebih 12 bulan dari semenjak struktur Biorock pertama kali di turunkan di Teluk Ambon, kini masyarakat sudah mulai merasakan dampak projeck restorasi meski umurnya masih sangat muda. “Ikan-ikan yang dahulu hanya sedkit jumlahnya (membuka kedua telapak tangan dengan rentang jarak 10 cm), kini banyak dan tangkapan saya dapat sebesar ini (melebarkan jarak antara kedua telapak tangannnya)”, ujar salah satu nelayan. Korelasi positif antara keberadaan terumbu karang dengan melimpahnya ikan dirasakan sendiri oleh masyarakat sekitar.

Bila berkaca dari kondisi kualitas air yang buruk dengan visibilitas yang sangat rendah (foto di samping), siapapun akan berfikiran bahwa akan gagal upaya merestorasi terumbu karang. Tapi lewat teknologi yang dikembangkan (Biorock), upaya tersebut kini tidak hanya menjadi angan. Ada harapan yang kembali muncul bahwa ekosistem yang telah dirusak, mungkin kiranya untuk dibangun dan diperbaiki kembali.

You May Also Like…

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *