Perbedaan Soft Coral dan Hard Coral

December 28th, 2020

Sama-sama membentuk ekosistem terumbu karang, karang halus (soft coral) dan karang keras (hard coral) ternyata memiliki klasifikasi, struktur, dan fungsi yang berbeda. Penasaran apa perbedaan soft coral dan hard coral? Simak artikel berikut.

  • Soft Coral Termasuk Alcyonacea, Hard Coral Termasuk Scleractinia

Secara taksonomi, soft coral termasuk kelompok Octocorallia atau Alcyonacea, sedangkan hard coral termasuk kelompok Scleractinia. Soft coral dapat dibedakan dengan hard coral melalui jumlah tentakelnya. Sesuai klasifikasinya, soft coral / octocorallia berarti mempunyai 8 tentakel atau kelipatannya, sedangkan hard coral mempunyai 6 tentakel atau kelipatannya.

Gambar 1. Jumlah Tentakel Soft Coral. Foto oleh Nicole Hergason (Reefdivers.io (2019)

Gambar 2. Jumlah Tentakel Hard Coral. Foto oleh Nicole Hergason (Reefdivers.io (2019)

  • Hard Coral Menghasilkan Kerangka Keras Kalsium Karbonat

Hard coral menghasilkan struktur kaku yang terbuat dari kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk aragonit. Menurut penelitian dari MIT, hard coral membentuk kerangka ini untuk mendekatkan diri menuju sinar matahari. Hal ini supaya mempermudah fotosintesis zooxanthellae yang tinggal dalam jaringannya. Kerangka kaku inilah yang membentuk struktur terumbu karang, maka hard coral sering juga disebut reef-building coral.

Soft coral disatukan oleh mesoglea seperti jeli dan struktur sklerit. Secara visual, bentuk koloni soft coral menyerupai pepohonan, semak, kipas angin, dan rerumputan. Berbeda dengan hard coral, soft coral tidak membentuk kerangka keras. Soft coral terdapat di ekosistem terumbu karang, tetapi bukan koral yang membentuk struktur terumbu.

  • Pertahanan Fisik vs Kimia

Hard coral dan soft coral telah mengembangkan kemampuan pertahanan diri yang berbeda. Hard coral mempertahankan diri dari predator dengan membangun kerangka kalsium karbonat di sekitar tubuhnya untuk perlindungan. Dengan cara ini, predator tidak dapat memangsa polip karang karena terhalang kerangka keras. Strategi pertahanan ini membantu hard coral menahan kerusakan yang disebabkan oleh arus, gelombang, badai, gigitan moluska, dan ikan kakatua.

Berbeda dengan hard coral, soft coral tidak memiliki pelindung kerangka keras. Soft coral mengembangkan kemampuan produksi berbagai metabolit sekunder untuk menghindari predator. Senyawa-senyawa yang disekresikan soft coral biasanya berupa agen antipredator, antimikroba, alelopati dan antifouling.

  • Soft Coral Cenderung Berkoloni

Soft coral sering tampak sebagai satu organisme besar / satu individu polip, tetapi sebenarnya soft coral adalah koloni polip yang bergabung membentuk struktur yang lebih besar. Jika dibandingkan dengan hard coral, terdapat hard coral yang bersifat koral soliter (tidak berkoloni) yang terbentuk dari satu polip seperti mushroom corals, heliofungia, acanthophyllia, cycloseris, dan trachyphyllia. Meski hanya terbentuk dari satu polip, koral bisa mencapai ukuran yang besar! Misalnya mushroom coral yang dapat tumbuh hingga 60 cm.

Gambar 3. Mushroom Hard Coral. (What’s That Fish (2008)

  • Hard Coral Menyediakan Substrat Untuk Koral Baru

Hard coral membuat dan memelihara struktur terumbu karang melalui produksi kerangka kalsium karbonatnya. Tidak hanya sebagai habitat biota laut, kerangka keras ini bermanfaat sebagai substrat alami koral yang baru. Pada proses reproduksi koral, polip mengalami penyebaran/dispersal menuju habitat baru dimana ia membutuhkan substrat sebagai tempat penempelan dan bertumbuh. Keberadaan struktur terumbu karang yang dibuat oleh hard coral menyediakan tempat penempelan polip untuk siklus hidup selanjutnya dan memperbanyak populasi koral.

Meskipun memiliki struktur dan fungsi yang berbeda, soft coral dan hard coral sama-sama berperan membentuk ekosistem terumbu karang yang menakjubkan. Keanekaragaman koral dan kompleksitas ekosistem terumbu karang merupakan kekayaan dunia yang harus dijaga untuk masa depan. Seorang Indian bijak pernah berkata: “kita bukan mewarisi lingkungan kita dari nenek moyang kita, namun kita meminjamnya dari anak-anak kita. Dan pendapat ini berlaku untuk terumbu karang dunia. Mari kita lestarikan ekosistem terumbu karang karena karang sehat berarti komunitas kuat.

 

Pustaka:

NR Mollica, W Guo, AL Cohen, KF Huang, GL Foster, HK Donald, AR Solow. 2018. Ocean acidification affects coral growth by reducing skeletal density. Proceedings of the National Academy of Sciences 115 (8), 1754-1759, 2018. 55, 2018.

You May Also Like…

Apa Itu Segitiga Terumbu Karang?

Apa Itu Segitiga Terumbu Karang?

Meski populasinya tersebar di seluruh dunia, 76% spesies terumbu karang dunia dapat dijumpai di Segitiga Terumbu...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *