Biorock: Teknologi Untuk Menyelamatkan Karang

Written by Dewi Ayu Sekarini

November 27th, 2020

Sebagian besar bagian dari planet yang kita huni adalah air. Air memang disebut-sebut sebagai sumber kehidupan, bukan hanya untuk manusia tapi seluruh makhluk yang ada di planet ini. Air juga sangat berperan penting dalam pengaturan iklim di bumi. Tetapi, ada banyak unsur di dalam air yang juga mendukung untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi. Tidak lain dan tidak bukan, terumbu karang adalah salah satunya. Lalu, apa hubungannya terumbu karang dengan biorock?

Sedikit banyak informasi yang kita dapatkan dari media, yang menyatakan bahwa keberadaan populasi terumbu karang semakin terancam. Mengapa? Tentunya faktor alam hanya sebagian kecil dari penyebab rusaknya terumbu karang. Sisanya? Sudah pasti ulah manusia. Manusia melakukan banyak aktivitas di perairan laut. Ada yang mencari sumber daya alam untuk dijual kembali, untuk dikonsumsi, menjadikan laut sebagai tempat wisata, dan lain sebagainya. Apakah dari semua aktivitas tersebut semuanya merusak? Tentu tidak. Tetapi, sebagian besar dari aktivitas manusia memberikan dampak buruk untuk kehidupan ekosistem di bawah laut, termasuk terumbu karang. Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk bisa mengembalikan keadaanya?

Teknologi Biorock: Solusi Nyata Penyelamat Karang!

Baru pertama kali mendengar teknologi biorock? Begini penjelasan terkait teknologi biorock. Teknologi biorock merupakan teknologi yang memanfaatkan arus listrik untuk menumbuhkan dan memperbaiki struktur laut di skala apapun secara cepat. Arus listrik yang dimanfaatkan tentunya merupakan arus yang sangat rendah dan aman. Teknologi ini diinisiasi oleh Profesor Wolf Hillbertz yang kemudian dikembangkan kembali oleh beliau dan Dr. Tom Goreau.

Bagaimana Teknologi Biorock Bekerja?

Terdapat dua penjelasan terkait cara kerja teknologi biorock. Pertama, lapisan eksoskeleton pada polip akan dipengaruhi oleh aliran listrik yang mirip dengan penyembuhan patah tulang pada manusia dan penjelasan lainnya adalah arus listrik yang masuk akan membuat kadar keasaman di air laut menjadi semakin rendah. Hal ini menyebabkan batu gamping yang terlarut menjadi terkristalisasi dan dapat digunakan untuk pertumbuhan eksoskeleton. Teknologi biorock membantu terumbu karang dalam mempercepat pemulihannya, karena jika mengandalkan keadaan secara alami, terumbu karang membutuhkan energi yang jauh lebih besar. Oleh karena itu, tanpa bantuan teknologi apapun, pemulihan terumbu karang akan sangat lambat dan kecil kemungkinan untuk dilakukan.

Arus listrik yang lemah nantinya akan menginisiasi reaksi elektrolisis. Reaksi ini menyebabkan senyawa-senyawa kimia yang ada di air laut larut. Senyawa kimia yang umumnya ditemukan antara lain kalsium karbonat dan magnesium hidroksida. Tujuan dari reaksi ini adalah untuk menumbuhkan stuktur dan membentuk batuan mineral yang mirip dengan terumbu karang alami. Besi yang digunakan terlindungi dari korosi dan akan menguat seiring berjalannya waktu.

Skema cara kerja teknologi biorock Sumber: Biorock Indonesia

 

Mengapa Biorock?

Selain karena menggunakan arus listrik lemah yang aman, teknologi biorock juga menggunakan besi biasa yang memiliki harga murah dan umum digunakan sebagai bahan kontruksi. Besi digunakan untuk membentuk stuktur atau bentuk apapun yang akan diletakkan di dalam laut. Selama proses biorock berlangsung, besi akan terlindungi dari korosi.

Besi yang nantinya berkarat untuk pertama kali tidak berkarat menjadi merah namun dapat berubah dengan cepat menjadi abu-abu dan hitam. Strukturnya akan berubah menjadi putih karena mineral batu kapur yang secara alami larut dalam air laut tumbuh di atas permukaan. Fenomena ini kemudian menghasilkan lapisan batuan keras yang terus tumbuh. Seiring berjalannya waktu, material ini akan semakin kuat. Apabila terjadi kerusakan, maka dapat diperbaiki secara alami.

Material biorock yang tumbuh pada baja selama dua tahun Sumber: Global Coral Reef Alliance (Foto oleh Wolf Hilbertz)

Tidak hanya menggunakan bahan yang umum dipakai, bentuk konstruksi dari biorock dapat disesuaikan, begitu pun dengan ukurannya. Sebelum menyesuaikan bentuk dan ukuran, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menilai karakteristik fisika dan biologi dari tempat yang akan diletakkan teknologi biorock. Hasil dari penilaiannya kemudian akan diberikan kepada teknisi untuk dibuat sketsa model supaya dapat memberikan gambaran secara visual.

Desain model yang dibuat juga dapat tersusun dari beberapa lapisan bolongan dan beragam ukuran lubang. Hal ini bertujuan supaya biota di laut yang berukuran dari mulai kecil hingga besar dapat berkumpul di ekosistem terumbu karang yang baru. Teknologi biorock sangat cocok untuk mengatasi beberapa gangguan lingkungan skala besar yang diperkirakan akan dipengaruhi oleh perubahan iklim global di masa depan.

Struktur Biorock di Pemuteran, Bali

 

Berikut adalah video Restorasi terumbu karang Biorock Indonesia:

 

Referensi

Global Coral Reef Alliance. 2014. Biorock. Technology: Cost-effective solutions to major marine resource management problems including construction and repair, shore protection, ecological restoration, sustainable aquaculture, and climate change adaptation. Global Coral Reef Alliance, Cambridge: 1—19.

Ari Spenhoff. 2010. The Biorock Process: Picturing reef building with electricity. Global Coral Reef Alliance dan Sun & Sea e. V., Cambridge: 1—20.

You May Also Like…

Apa Itu Segitiga Terumbu Karang?

Apa Itu Segitiga Terumbu Karang?

Meski populasinya tersebar di seluruh dunia, 76% spesies terumbu karang dunia dapat dijumpai di Segitiga Terumbu...

0 Comments

Trackbacks/Pingbacks

  1. Apa itu Biorock dan Teknologi Biorock? | Biorock Indonesia - […] Jika kamu ingin tahu lebih lanjut tentang teknologi biorock, kunjungi artikel berikut: Biorock: Teknologi Untuk Menyelamatkan Karang  […]

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *