Ditulis oleh Thomas J. F. Goreau, PhD

Terumbu karang di Ambon, di Maluku Indonesia timur, menjadi terkenal oleh beberapa sejarawan alam terbesar yang pernah hidup.

Pada tahun 1600an, Eberhard Rumpf yang dikenal dengan Rumphius, mendeskripsikan ratusan spesies baru dari tanaman dan hewan laut di Ambon, termasuk terumbu karang, walaupun tidak bisa melihatnya karena beliau buta total. Namun, beliau dapat mendeskripsikan spesies dengan merasakan spesimen dengan tangannya.

Pada tahun 1800an, Alfred Russel Wallace, salah satu penemu Hukum Evolusi, terpesona oleh berbagai macam bentuk dan warna karang yang menakjubkan yang menyelimuti dasar Teluk Ambon.

Meskipun dia tidak pernah bisa melihat mereka kecuali melihat permukaan air jernih dari sisi perahu, Wallace menyadari sekilas bahwa ada dunia yang fantastis di terumbu karang seperti yang dia temukan di hutan, dan ingin untuk bisa menyelam seperti ikan dan melihat mereka sedekat burung, mamalia, dan serangga yang dia pelajari. Begitu juga dengan Charles Darwin.

Hal Itu hanya terjadi ketika Prof. Thomas F. Goreau menjadi ilmuwan kelautan menyelam pertama di tahun 1940-an.

Ambon selama berabad-abad merupakan pusat utama perdagangan rempah-rempah. Populasi yang sangat meningkat mengurangi hutan di sepanjang pantai. Lumpur, dan kemudian, limbah dan plastik, mencemari teluk dan membunuh hampir semua karang (D. Ontosari, P. T. Karissa, M. Tjatur, H. Lating, R. Sudharna, K. Astika, I. M. Gunaksa, & T. Goreau, 2015, Geowisata menggabungkan geo-biodiversitas dan pengembangan berkelanjutan dari ekosistem terumbu karang Holocene tropis: Perbandingan dua wilayah eco-region di Indonesia dengan menggunakan teknologi Biorock, Proceedings Joint Convention Balikpapan HAGI-IAGI-IAFMI-IATMI).

Biorock Indonesia, Departemen Perikanan Maluku, nelayan lokal, dan mahasiswa dari Universitas Pattimura telah menumbuhkan terumbu karang Biorock di perairan berlumpur di Teluk Ambon yang membuat Rumphius dan Wallace kagum.

Proyek ini dimulai oleh Komang Astika, Prawita Tasya Karissa, dan Ruselan Sudharma, yang dikelola oleh Sandhi Raditya dan disponsori oleh Pertamina, telah mendorong penyelesaian karang Acropora yang hampir musnah di Teluk Ambon (lihat foto di bawah).

Hampir 30 tahun yang lalu di Ambon, orang-orang Muslim dan Kristen saling membunuh, terpancing oleh para fanatik agama dari luar. Sekarang, di Teluk Ambon ada terumbu karang Biorock yang berbentuk seperti gereja dan masjid, berdampingan, untuk menekankan bahwa lingkungan mempengaruhi setiap orang dari kita, apakah kita menyadarinya atau tidak, dan bahwa kita semua harus bekerja sama untuk generasi mendatang.

Dalam beberapa hari kedepan akan lebih banyak terumbu karang Biorock akan dipasang.

Rumphius dan Wallace akan senang!

BIOROCK AMBON, November 18 2018, foto oleh Komang Astika dan Sandhi Raditya