7 Fakta Terumbu Karang

December 26th, 2020

Sering dijumpai di laut dan akuarium ikan hias, ternyata terumbu karang memiliki beberapa fakta yang menarik untuk disimak. Dari potensi obat hingga mencegah abrasi pantai, berikut rangkuman 7 fakta terumbu karang.

  • Hewan, Bukan Tumbuhan

Karang bersifat sesil, yang berarti mereka secara permanen menempel pada dasar laut. Sepintas, mereka terlihat seperti kebanyakan tumbuhan yang berakar di tanah, apalagi helai-helai tentakelnya ikut bergerak terdorong arus seperti daun yang tertiup angin. Beberapa karang juga berwarna hijau–seperti daun yang memiliki klorofil! Akan tetapi, karang ternyata bukan kategori tumbuhan. Karang adalah hewan.

Karang sebenarnya terbentuk melalui kemitraan yang sudah ada sejak jaman dahulu yang disebut simbiosis. Karang yang kita kenali merupakan simbiosis dari spesies polip dan alga, yang memberi manfaat bagi satu sama lain. Namun, karang dianggap hewan karena mereka tidak membuat makanan sendiri. Karang memiliki tentakel–struktur lengan yang mereka gunakan untuk menangkap makanan mereka dari air dan menyapu ke dalam mulutnya.

Masih penasaran kenapa karang dianggap hewan? Baca artikel berikut: Kenalan dengan Terumbu Karang: Hewan atau Tumbuhan? 

  • Punya Mekanisme Pertahanan Diri

Karena sifatnya yang sesil, karang tidak bisa melarikan diri dari predatornya. Beberapa predator yang mengancam keberadaan karang berupa anemon lain, nudibranch (siput laut), bintang laut, dan beberapa spesies angelfish. Untuk mempertahankan diri, karang berevolusi membuat metabolit sekunder seperti racun, alelopati, dan sebagainya. 

Salah satu contoh mekanisme pertahanan diri karang dapat dilihat pada spesies Magnificent Sea Anemone (Heteractis magnifica) yang merupakan salah satu habitat ikan badut. Spesies anemon ini menggunakan sel beracun atau nematocyst pada tentakel mereka untuk menyengat dan menghalangi segala kemungkinan ancaman atau serangan. Selain itu, mekanisme ini juga digunakan untuk menangkap mangsanya. Ikan badut dan Magnificent Sea Anemone menjalin simbiosis mutualisme dimana anemon menyediakan habitat yang aman, sebagai gantinya ikan badut menyediakan materi organik untuk kebutuhan nutrisi anemon.

Gambar 1. Ikan Badut Tinggal di Anemon (Gangga Island (2020)

  • Pusat Keanekaragaman Terumbu Karang Terletak di Papua, Indonesia

Kita turut berbangga karena episentrum keanekaragaman terumbu karang terdapat di Semenanjung Doberai (lebih dikenal sebagai Bird’s Head Peninsula) di Papua, Indonesia. Menurut riset tahun 2012, lokasi ini menampung lebih dari 600 spesies terumbu karang dan 1.638 spesies ikan terumbu karang, yang artinya merupakan tempat terkaya keanekaragaman terumbu karang di dunia! Menurut Bird’s Head Seascape, saat ini terdapat setidaknya 35 spesies ikan karang yang endemik, dengan tambahan 5-40 spesies karang endemik dan 8 udang mantis endemik.

Gambar 2. Keanekaragaman Terumbu Karang dan Biota Laut di Bird’s Head Seascape. Foto oleh Damien Mauric (Bird’s Head Seascape (2017))

  • Potensi Obat-obatan Masa Depan

Saat ini, lebih dari setengah penelitian obat kanker terbaru berfokus pada biota laut, salah satunya terumbu karang. Hal ini karena biota laut memiliki keanekaragaman genetik yang lebih tinggi dari organisme di darat. Pada akhir 2019, tercatat ada 9 obat disetujui yang bersumber dari laut yaitu Vira-A®, Prialt®, Lovaza®, Cytosar-U®, Halaven®, Adcetris®, Yondelis®, Aplidine®, dan POLIVY®. Selain itu, saat ini terdapat 31 komponen dari lautan yang masih dalam uji klinis, 5 komponen di fase III, 13 komponen di fase II dan 9 komponen di fase I untuk menjadi obat resmi. Menurut Bruckner (2002) biota laut seperti terumbu karang memiliki potensi medis 300-400 kali lebih tinggi daripada makhluk hidup di darat!

  • Mencegah Abrasi

Struktur terumbu karang yang kompleks mendukung fungsi sebagai pemecah ombak. Karang membentuk struktur penghalang yang melindungi garis pantai dari gelombang dan badai. Struktur terumbu karang menjaga garis pantai terhadap gelombang, badai, banjir, dan erosi. Ketika terumbu rusak atau hancur, tidak ada perisai penghalang gelombang sehingga dapat meningkatkan kerusakan pesisir dari gelombang laut dan badai.

Menurut penelitian Ferrario et al. (2014) terumbu karang menyediakan perlindungan substansial dari bencana alam dengan mengurangi energi gelombang rata-rata 97%. Kerusakan terumbu karang berarti hilangnya pelindung alam wilayah pesisir yang akan memicu peningkatan laju abrasi pantai (BPS, 2020) Abrasi pantai menyebabkan berkurangnya daerah pantai, kerusakan rumah di pesisir, bahkan kehilangan nyawa penduduk.

  • Terancam Perubahan Suhu Karena Krisis Iklim

Terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Perubahan suhu laut sebesar satu derajat Celcius saja dapat menyebabkan pemutihan karang. Pada krisis iklim, lautan memanas dan dengan demikian jumlah karang yang memutih menjadi semakin tinggi.

Pemutihan terumbu karang terjadi karena karang mengalami stres akibat perubahan temperatur laut. Pada kondisi ini, karang akan mengeluarkan alga (zooxanthellae) yang hidup di jaringannya sehingga menyebabkan karang menjadi putih seluruhnya. Saat karang memutih, ia tidak mati, tetapi rawan mati karena kelaparan.

Gambar 3. Foto Pemutihan Karang di Struktur Biorock di tahun 2020 (Foto oleh Komang Astika (2020))

  • Lebih Dari 50% Terumbu Karang Mati Dalam 30 Tahun Terakhir

Terumbu karang menghadapi berbagai tekanan seperti polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan perubahan iklim yang sedang berlangsung. Peningkatan suhu air menyebabkan pemutihan karang di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan lebih dari 50% terumbu karang mati dalam 30 tahun terakhir. Di Indonesia sendiri, terumbu karang yang sehat hanya tersisa 29,52% saja pada tahun 2018!

Kita sudah membahas beberapa fakta terumbu karang. Saat ini, terumbu karang mengalami berbagai ancaman dari aktivitas manusia. Oleh karena itu, mari ikut terlibat memulihkan terumbu karang dengan mengadopsi 1 koral bersama Biorock Indonesia karena karang sehat berarti komunitas kuat. Daftarkan dirimu pada program “Adopt A Baby Coral” pada tautan berikut: http://www.biorock-indonesia.com/adopsibabycoral/ 

Daftar Pustaka:

Bird’s Head Seascape. 2020. Endemic Marine Species of the Bird’s Head Seascape. Bird’s Head Seascape. Diakses pada 22 Desember 2020 pada https://birdsheadseascape.com/download/research/biodiversity/endemics.pdf 

Badan Pusat Statistik. 2020. Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2020. Jakarta: BPS RI

Bruckner, Andrew W. “Life-Saving Products from Coral Reefs.” Issues in Science and Technology 18, no. 3 (Spring 2002).

Ferrario, F., Beck, M., Storlazzi, C. et al. The effectiveness of coral reefs for coastal hazard risk reduction and adaptation. Nat Commun 5, 3794 (2014). https://doi.org/10.1038/ncomms4794

Mangubhai S, Erdmann MV, Wilson JR, Huffard CL, Ballamu F, Hidayat NI, Hitipeuw C, Lazuardi ME, Muhajir, Pada D, Purba G, Rotinsulu C, Rumetna L, Sumolang K, Wen W. Papuan Bird’s Head Seascape: emerging threats and challenges in the global center of marine biodiversity. Mar Pollut Bull. 2012 Nov;64(11):2279-95. doi: 10.1016/j.marpolbul.2012.07.024. Epub 2012 Aug 3. PMID: 22863353.

 

You May Also Like…

Apa Itu Segitiga Terumbu Karang?

Apa Itu Segitiga Terumbu Karang?

Meski populasinya tersebar di seluruh dunia, 76% spesies terumbu karang dunia dapat dijumpai di Segitiga Terumbu...

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *